A. MODEL
PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK
Tujuan
pembelajaran menurut Behavioristik adalah behavioral learning ourcome yang
dinyatakan secara spesifik, seperti :
1. A – Audience adalah siswa
2. B – Behavior perilaku atau
kompetensi yang perlu di tampilkan setelah proses belajar dilakukan, seperti “
menjawab pertanyaan ‘’
3. C – Condition setelah
menyelasaikan unit pelajaran yang dievaluasi diakhir proses pembelajaran.
4. D – Degres yaitu pencapaian hasil
belajar, misalnya 90 %.
Behavioristik
tidak hanya diterapkan di dalam psikologi yang dikenal dengan behavioral
pychology, akan tetapi juga diterapkan di dalam dunia pendidikan dan
pembelajaran. Penerapan teori behavioristic di dalam pembelajaran, dimulai
dengan melakukan analisis kebutuhan siswa, kemudian dilanjutkan menetapkan
tujuan pendidikan atau pembelajaran. Dalam pendekatan behavioristic hal ini
disebut behavioral Outcome. Penerapan behavioristic di dalamdunia pendidikan
dapat tercermin dari perumusan tujuan pembelajaran, penerapan mesin belajar
terprogram atau programmed instructional, Pembelajaran individual atau
individualized instructional, pembelajaran dengan bantuan computer atau
computer assisted learning dan pendekatan sistem. [1][4]
Teori
behavioristik dengan model hubungan
stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Menurut
teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon
tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut.
Ciri-ciri Teori Belajar
Behavioristik
Untuk
mempermudah mengenal teori belajar behavioristik dapat dipergunakan
ciri-cirinya yakni
1. mementingkan pengaruh
lingkungan (environmentalistis)
2. mementingkan bagian-bagian
(elentaristis)
3. mementingkan peranan
reaksi (respon)
4. mementingkan mekanisme
terbentuknya hasil belajar
5. mementingkan hubungan
sebab akibat pada waktu yang lalu
6. mementingkan pembentukan
kebiasaan.
7. ciri khusus dalam
pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal’ atau trial and error.[2][5]
B. MODEL PEMBELAJARAN KOGNITIVISTIK
Metode pembelajaran kognitif merupakan salah
satu metode pembelajaran yang menitih beratkan pada bagaimana peserta didik
berpikir, Winkel (1996: 53) dalam bukunya mengatakan bahwa “Belajar adalah
suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan
pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif
dan berbekas”. memahami dan mengembangkan konsep serta memecahkan masalah dari
konsep yang telah dipahami. Untuk dapat memahami dan selalu mengingat akan
konsep-konsep yang diberikan kepada peserta didik maka pendidik haruslah
memberikan penekanan-penekanan serta mengulang atau mereview materi-materi lalu
yang telah diberikan agar apa yang di terima oleh peserta didik dapat masuk ke
dalam Long Therm Memory (Memori Jangka Panjang). Apabila suatu konsep
materi sudah masuk dalam memori jangka panjang maka untuk mengembangkan dan
memecahkan masalah dari konsep yang akan dipahami akan lebih mudah.
Kelebihan dari Metode
Pembelajaran Kognitif
Setiap teori pembelajaran pastilah memiliki kelebihan dibandingkan teori pembelajaran yang lain. Selain itu setiap teori pembelajaran juga melengkapi dan menambah dari kekurangan teori-teori pembelajaran yang telah diungkapkan oleh para ahli sebelumnya. Teori pembelajaran Kognitif ini memiliki kelebihan yang terbilang banyak di antaranya adalah :
1.
Negara Indonesia dalam kurikulum pendidikannya lebih menekankan pada teori
belajar kognitif yang mengutamakan pada pengembangan pengetahuan yang dimiliki
dan value pada setiap individu
2.
Pada metode pembelajaran kognitif pendidik hanya perlu memberikan dasar-dasar
dari materi yang di ajarkan untuk pengembangan dan kelanjutannya diserahkan
kepada peserta didik, dan pendidik hanya perlu memantau, mengatur dan
menjelaskan dari alur pengembangan materi yang telah diberikan
3.
Dengan metode pembelajaran kognitif maka pendidik dapat memaksimalkan ingatan
yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengingat semua materi-materi yang
diberikan karena pada pembelajaran kognitif salah satunya menekankan pada daya
ingat peserta didik untuk selalu mengingat dan mengingat akan materi-materi
yang telah diberikan
4.
Tingkatan terakhir pada domain belajar kognitif menurut krathwol adalah Creation
yang berarti kreasi atau pembuatan suatu hal baru atau membuat suatu yang baru
dari hal yang sudah ada, maka dari itu dalam metode belajar kognitif peserta
didik harus lebih bisa mengkreasikan hal-hal baru yang belum ada atau
menginovasi hal yang sudah ada menjadi lebih baik lagi.
5.
Selain itu metode pembelajaran kognitif ini mudah untuk di terapkan dan telah
banyak diterapkan pada pendidikan Indonesia di segala tingkatan.
Selain
kelebihan di atas, masih banyak lagi kelebihan yang terdapat dalam metode
pembelajaran kognitif ini.
Kekurangan dari Metode Pembelajaran Kognitif
Selain meninjau dari segi kelebihan metode pembelajaran kognitif, di sini juga akan ditinjau dari segi kekurangannya. Berikut adalah beberapa kekurangan yang dimiliki oleh metode pembelajaran kognitif :
1.
Karena pembelajaran kognitif menitih beratkan pada kemampuan kognitif atau
kemampuan ingatan peserta didik, dan kemampuan ingatan masing-masing peserta
didik maka di sini kelemahan dari pembelajaran kognitif adalah selalu
menganggap sama semua daya ingat masing-masing peserta didik sama dan tidak
berbeda-beda
2.
Dalam metode kognitif juga tidak memperhatikan cara peserta didik dalam
mengeksplorasi pengetahuan dan cara-cara peserta didik dalam mencarinya, karena
pastilah masing-masing individu memiliki cara yang berbeda dalam mencari sebuah
informasi, Seperti hasil dari penelitian Biggs dan Collis (1982)
3.
Jika seorang pendidik mengajar hanya menggunakan metode kognitif saja terutama
dalam sekolah kejuruan tanpa dibarengi dengan metode pembelajaran lain, maka
dapat dipastikan peserta didik yang diajarkan tidak bisa mengerti sepenuhnya
terhadap materi-materi yang diberikan
4.
Jika dalam pendidikan kejuruan hanya menggunakan metode kognitif tanpa
dibarengi dengan metode pembelajaran yang lain maka peserta didik akan
kesulitan dalam melakukan praktek kegiatan atau materi. Sebagai contoh jika seorang
guru memberikan cara untuk tune up sebuah mobil tanpa memberikan contoh praktek
kegiatan tune up itu sendiri (hanya teori saja yang diberikan) mungkin siswa
tidak akan bisa untuk melakukan tune up sendiri.
5.
Dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif perlu diperhatikan kemampuan
peserta didik untuk mengembangkan suatu materi yang telah diterimanya, apabila
seorang peserta didik tidak mampu menggunakan kemampuannya untuk mengembangkan
suatu materi yang telah diberikan oleh pendidik, maka peserta didik tadi tidak
akan mampu mencapai titik tertinggi dalam domain belajar kognitif yang telah
diungkapkan oleh Krathwol.
Masih
banyak lagi kekurangan yang bisa diambil dari metode pembelajaran kognitif ini
selain yang telah disebutkan di atas.
Cara dan Strategi yang Tepat
Untuk Menerapkan Metode Pembelajaran Kognitif
Dalam menerapkan suatu metode pembelajaran haruslah ada cara-cara yang tepat yang bisa digunakan agar dalam proses belajar dapat tercapai sesuai dengan keinginan, begitu juga dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif ada cara-cara dalam menerapkannya kepada peserta didik. Berikut adalah cara dan strategi yang bisa digunakan dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif ini.
1.
Dalam tahap Remembering.
Saat pertama kali baiknya memberikan
motivasi-motivasi terlebih dahulu kepada peserta didik agar bisa menjadi
inspirasi yang mendorong peserta didik untuk belajar. Saat menyampaikan
hendaknya pengajar mampu melakukan penekanan-penekanan, pengodean, serta
perhatian kepada materi yang disampaikannya, serta di akhir jam pelajaran
lakukan pengulangan terhadap materi yang telah diberikan. Untuk lebih
meningkatkan daya ingat peserta didik akan materi lakukan juga sebuah diskusi
untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing peserta didik untuk
mengeksplorasi informasi dari banyak hal.
2.
Tahap Understanding
Seperti halnya tahap Remembering,
dalam tahap Understanding juga dalam memberikan pendahuluan
hendaknya yang menarik. Dalam tahap ini peserta didik haruslah bereksplorasi
dari sumber-sumber yang ada seperti observasi, diskusi atau eksperimen namun
sebelum melakukan kegiatan eksplorasi pendidik haruslah memberikan sebuah
pertanyaan kepada peserta didik sebagai bahan dasar eksplorasi. Inti dari tahap
Understanding adalah sebelum pendidik menyampaikan materi, jangan beri
tahu peserta didik terlebih dahulu, biarkan mereka mencari tahu dengan
bereksplorasi sendiri seperti tadi, hendaknya juga materi yang akan disampaikan
bersifat baru bagi peserta didik sehingga membuat peserta didik merasa
penasaran. Hal tersebut mengacu pada sekolah-dasar.blogspot.com (2012).
3.
Tahap Aplication
Dalam tahap ini pendidik
menyampaikan kasus-kasus (problem) atau bisa juga dari kasus yang berasal dari
peserta didik saat bereksplorasi yang biasa disebut Study kasus. Setelah itu
pendidik harus memberikan sebuah panduan dalam menyelesaikan kasus-kasus yang
ada dengan panduan yang bersifat global. Setelah memberikan panduan kepada
peserta didik, biarkan mereka memecahkan kasus-kasus yang telah diungkapkan
sebelumnya menggunakan panduan yang telah diberikan pendidik tadi. Akhir tahap
ini pendidik harus memberikan masukan-masukan atau koreksi terhadap pemecahan
kasus yang kurang tepat atau yang lainnya. Jangan lupa berikan sebuah penutup
yang baik.
4.
Tahap Analysis
Dalam tahap ini process
skill harus digunakan untuk menganalisis masalah. Namun sebelum melakukan
analisis pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyampaikan masalah-masalah
yang dihadapi kemudian mengumpulkan data-data dari masalah yang bersifat
deduktif setelah itu barulah menganalisis data dari masalah yang dihadapi,
analisis dalam hal ini harus bersifat deskriptif. Setelah menganalisis semua
data-data yang telah ditemukan maka pembuatan kesimpulan harus dilakukan,
semakin detail hasil dari analisis tadi maka semakin bagus pula kesimpulannya.
Jangan lupa memberikan pendahuluan di awal dan penutup di akhir jam.
5.
Tahap Evaluation
Tahap
Evaluation atau evaluasi adalah tahap mengevaluasi dari data atau
kesimpulan yang di dapat dalam tahap Analysis untuk dilihat kebenarannya
atau kebetulannya bila peserta didik memiliki kesalahan-kesalahan yang
dilakukan saat menganalisis atau mungkin kesalahan data saat menganalisis maka
yang berhak membenarkan atau meluruskan kembali adalah pendidik. Tahap-tahap
rangkaian dalam Evaluation ini hampir sama dalam tahap pada Analysis.
6.
Tahap Creation
Dalam tahap ini peserta didik
haruslah berperan aktif dan berperan penuh, sementara pendidik hanya sebagai
pemantau saja. Pertama kali yang harus dilakukan peserta didik dalam tahap ini
adalah menyampaikan proyek atau kasus, selanjutnya adalah evaluasi dari proyek
atau kasus yang telah disampaikan tadi. Yang menjadi dasar dalam tahap Creation
ini adalah memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada. Selanjutnya adalah
inovasi proyek atau kasus dalam hal ini peserta didik haruslah membuat sebuah
inovasi yang baru dari hal yang ada. Inovasi dalam hal ini bukan berarti
membuat sebuah hal yang baru namun inovasi adalah membuat suatu kelebihan dari
sebuah kekurangan yang dimiliki oleh hal tersebut. Setelah melakukan inovasi
hal yang harus dilakukan peserta didik adalah melaporkan hasil dari proyek atau
kasus yang telah dikerjakan kepada peserta didik lain atau kepada pendidik.
Jangan lupa juga berikan sebuah penutup dan pembuka saat di tahap ini.
C.
MODEL PEMBELAJARAN KONSTUKTIVISTIK
Konstruktivisme
merupakan pendekatan dalam psikologi yang berkeyakinan bahwa anak dapat membangun
pemahaman dan pengetahuannya sendiri tentang dunia disekitarnya atau dengan
kata laian anak dapat membelajarkan dirinya sendiri melalui berbagai
pengalamannya.[3][6]
Pendidikan selama ini terus mengalami pembaharuan untuk
menciptakan berbagai metode yang berguna bagi perkembangan zaman untuk memenuhi
tuntutan manusia yang semakin hari semakin bermacam dengan berbagai tipe.
Tingkat kebutuhan ini menjadikan masyarakat melakukan perubahan kearah yang
lebih baik. Pada bidang Pendidikan sendiri mengandung berbagai bidang yang
terus mengalami kemajuan, misalnya dalam bidang Pendidikan mengandung
Kurikulum yang terus berganti mengikuti
tuntutan perkembangan zaman sehingga sistem Pendidikan mengalami Kemajuan,
bidang lain misalnya Kualitas seorang Pengajar. Kurikulum yang berlaku sekarang
ini merupakan bentuk terbaru dari pengembangan kurikulum Berbasis Kompetensi
yang menekankan pada guru untuk semakin gencar berupaya menggairahkam kembali
dunia Pendidikan khususnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Berbagai
penelitian diadakan untuk memajukan dunia Pendidikan. Dalam Penelitian itu
digunakan berbagai metode pendekatan misalnya metode Konstruktivisme.
Menurut Glasersfeld (1987) konstruktivisme sebagai ‘teori
pengetahuan dengan akar dalam “filosofi, psychology, dan cybernetics”. Von
Glasersfeld mendefinisikan konstruktivisme radikal selalu membentuk konsepsi
Pengetahuan. Ia melihat Pengetahuan sebagai sesuatu hal yang dengan aktif
menerima apapun melalui pemikiran sehat atau melalui komunikasi. Hal ini secara
aktif terutama membangun pengetahuan. Sedangkan menurut Murpy(1997: 7)
kontruktivisme terdiri dari suatu jaringan sesuatu hal dan berhubungan bahwa
kita hidup bersandar pada hidup kita, and yang lain pun sama terhadapnya, kita
percaya, orang lain juga bersandar juga. Dalam hal ini siswa
menginterpretasikan dan membangun suatu kenytaan berdasarkan pada interaksi dan
pengalamannya dengan lingkungannya.
Dari keterangan diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap seseorang untuk
belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain
yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini
adalah:
a. Adanya
motivasi untuk seseorang bahwa belajar adalah tanggung jawab seseorang itu sendiri.
b. Mengembangkan
kemampuan seseorang untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri
pertanyaannya.
c. Membantu seseorang
untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
d. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk
menjadi pemikir yang mandiri.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar
itu.
1.
Prinsip dan Karakteristik Konstruktivisme
Belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan melalui
keterlibatan fisik dan mental seseorang secara aktif, dan juga merupakan proses
asimilasi dan menghubungkan bahan yang dipelajari dengan pengalaman-pengalaman
yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuannya mengenai objek tertentu menjadi
lebih kokoh. Semua pelajar benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk
dirinya sendiri, dan bukan pengetahuan yang datang dari guru “diserap oleh
murid. Ini berarti bahwa setiap murid akan mempelajari sesuatu yang sedikit
berbeda dengan pelajaran yang diberikan (Muijs dan Reynolds, 2008:97).
Selanjutnya Muijs dan Reynolds (2008:97) mengemukakan bahwa murid adalah konstruktor
pengetahuan aktif yang memiliki sejumlah konsekuensi yaitu :
1. Belajar selalu
merupakan sebuah proses aktif.
Pelajar secara aktif
mengkonstrusikan belajarnya daru berbagai macam input yang diterimanya. Ini
menyiratkan bahwa belajar harus bersikap aktif agar dapat belajar secara
efektif. belajar adalah tentang membantu murid untuk mengkonstruksikan makna
mereka sendiri, bukan tentang “mendapatkan jawaban yang benar” karena dengan
cara seperti ini murid dilatih untuk mendapatkan jawaban yang benar tanpa
benar-benar memahami konsepnya.
2. Anak-anak
belajar paling baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif (konflik
dengan berbagai ide dan prakonsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi dan
metakognisi (Beyer, 1985)
3. Bagi
konstruktivis, belajar adalah pencarian makna. murid secara aktif berusaha
mengkonstruksikan makna. Dengan demikian, guru mestinya berusaha mengkonstruksi
berbagai kegiatan belajar di seputar ide-ide besar eksplorasi yang memungkinkan
murid untuk mengkonstruksi makna
4. Konstruksi
pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat individual semata. Belajar juga
dikonstruksikan secara sosial, melalui interaksi dengan teman sebaya, guru,
orang tua, dan sebagainya. Dengan demikian yang terbaik adalah
mengkonstruksikan siatuasi belajar secara sosial, dengan mendorong kerja dan
diskusi kelompok
5. Elemen
lain yang berakar pada fakta bahwa murid secara individual dan kolektif
mengkonstruksikan pengetahuan. Agar efektif guru harus memiliki pengetahuan
yang baik tentang perkembangan anak dan teori belajar, sehinggga mereka dapat
menilai secara akurat belajar seperti apa yang dapat terjadi
6. Belajar
selalu dikonseptualisasikan. Kita tidak mempelajari fakta-fakta secara abstrak,
tetapi sealalu dalam hubungannya dengan apa yang telah kita ketahui.
7. Belajar secara betul-betul mendalam berarti
mengkonstruksikan pengetahuan secara menyeluruh, dengan mengeksplorasi dan
menengok kembali materi yang kita pelajari dan bukan dengan cepat pindah satu
topik ke topik lain. Murid hanya dapat mengkonstruksikan makna bila mereka
dapat melihat keseluruhannya, bukan hanya bagian-bagiannya
8. Mengajar
adalah tentang memberdayakan pelajar, dan memungkinkan pelajar untuk
menemukakan dan melakukan refleksi terhadap pengalaman-pengelaman realistis.
Ini akan menghasilkan pembelajaran yang otentik/asli dan pemahaman yang lebih
dalam dibandingkan dengan memorisasi permukaan yang sering menjadi ciri pendekatan-pendekatan
mengajar lainnya (Von Glaserfelt, 1989). Ini juga membuat kaum konstruktivis
percaya bahwa lebih baik menggunakan bahan-bahan hands-on daripada tekxbook
Suparno (1997)
mengidentifikasi 3 prinsip kontruktivisme dalam belajar yakni sebagai berikut:
a.
pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial,
b.
pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pengajar kepada pebelajar, kecuali
dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar,
c.
pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar
proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien.
Sedangkan
Jacqueline Grennon Brooks dan Martin G. Brooks dalam The case for
constructivist classrooms. (1993) menawarkan lima prinsip kunci konstruktivist
teori belajar. Menurutnya terdapat lima panduan prinsip konstruktivisme:
Prinsip 1: Permasalahan yang muncul sebagai hal yang
relevan dengan siswa.
Dalam
banyak contoh, masalah style Anda mengajar mungkin akan menjadi relevan dengan
selera untuk para siswa, dan mereka akan mendekatinya, merasakan keterkaitannya
kepada kehidupan mereka.
Prinsip 2: Struktur belajar di sekitar konsep-konsep
utama
Mendorong para siswa
untuk membuat makna dari bagian-bagian yang menyeluruh/utuh ke dalam
bagian-bagian yang terpisah-pisah. Hindari mulai dengan bagian-bagian dahulu
untuk membangun kemudian sesuatu yang "menyeluruh/utuh."
Prinsip 3: Carikan dan hargai poin-poin pandangan
siswa sebagai jendela memberi alasan mereka.
Tantangan
gagasan dan pencarian elaborasi yang tepat ditangkap siswa, sering mengancam
banyak siswa. Maksudnya adalah bahwa sering para siswa di dalam kelas yang
secara tradisional mereka tidak bisa menduga serta menghubungkan apa yang guru
maksudkan untuk jawaban yang benar dan cepat, agar ia tidak berada di luar
topik dari diskusi kelas yang diadakan. Mereka harus betul-betul
"masuk" dan ”sibuk” ikut mengkaji tugas-tugas dalam belajar sebagai
konstruktivis lingkungan melalui petanyaan-peranyaan, sanggahan, ataupun
jawaban yang diajukan.
Prinsip 4. Sesuaikan pembelajaran dengan perkiraan
menuju pengembangan siswa.
Memperkenalkan
topik kajian pengembangan dengan tepat atau sesuai, adalah suatu awal yang baik
untuk dapat dipahami pengembangan konsep berikutnya
Prinsip 5; Nilai hasil belajar siswa dalam
konteks pembelajaran.
Geser
atau ubah peniaian itu harus benar-benar sedang menilai apa yang benar-benar
sedang terjadi saat penilaian itu. Berlangsung, dan jangan sekali-kai menilai
itu dalam kebiasaan skor yang diperoleh seseorang dari waktu ke waktu. Ekspresi
Anda bisa bervariasi, kadang-kadang optimis, periang, namun sesekali bisa
pesimis, sedih, maupun marah. Namun peru diingat marahnya seorang guru dalam
kerangka sedang mendidik, dalam konteks pembelajaran, bukan marah
mengekspresikan kekesalan.
Ketiga
prinsip di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam
proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui
lingkungannya. Dalam hal ini, Funston (1996) lebih spesifik mengatakan bahwa
seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada
apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu
materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi
proses belajar tersebut.
Berdasarkan
uraian diatas maka secara umum ada empat
prinsip dasar konstruktivisme dalam pembelajaran :
1. Pengetahuan
terdiri atas konstruksi masa silam
2. Pengkonstruksian
pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi.
3. Belajar
merupakan suatu proses organic penemuan lebih dari proses mekanik yang
akumulatif.
4. Mengacu
pada mekanisme yang memungkinkan terjadinya perkembangan struktur kognitif.
Belajar bermakna, akan terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik.
Implikasi
prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa
mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada
pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pembelajar membangun
sendiri pengetahuannya sendiri, mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar
dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis,
dan mengadakan justifikasi. Dasar pemikiran seperti ini menjadikan teori
konstruktivistik sebagai landasan teori-teori belajar yang pernah ada, seperti
teoru perubahan konsep, teori belajar bermakna dan teori skema. Dari penjelasan
ini tergambar bahwa konstruktivisme merupakan teori yang berlandaskan pada
pembelajaran siswa dalam membentuk pengetahuannya sendiri dan guru sebagai
mediator dan fasilitator yang relevan.
Oleh karena itu, paradigma konstruktivistik memandang
siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari
sesuatu. Kemampuam awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Untuk itu, guru dituntut untuk memahami jalan pikiran
atau cara pandang siswa dalam belajar. guru tidak dapat mengklaim bahwa
satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya
Karakteristik belajar
dengan pendekatan konstruktivisme menurut Slavin (1997) ada 4 yaitu:
1. Proses
Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang kompleks
untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan
guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa dapat
diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar
tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca.
2.
Pembelajaran kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami
konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut
dengan temanya.
3. Generative
learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun apabila
kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi mental
dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman mereka.
4. Pembelajaran
dengan penemuan yaitu, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui
keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan
guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang
mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
2. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME
Adapun
ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah ;
1. Memberi peluang kepada murid untuk
mendapatkan pengetahuan baru melalui proses terlibat secara langsung
2. Menggunakan idea yang dimiliki setiap siswa untuk bisa mengembangkan
dirinya sendiri
3. Pembelajaran dilakukan sesuai dengan minat siswa
4. Idea siwa merupakan
proses belajar siswa untuk mencapai tujuan
5. Mengembangkan potensi
dan kreatifitas siswa
6. Dalam proses pembelajaran siwa berinteraksi aktif dengan guru
7. Menganggap pembelajaran
sebagai suatu proses yang penting sehingga sesuai dengan hasil pembelajaran.
8. Menggalakkan proses
inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
3.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME
1.
Kelebihan
a. Menjadikan
siswa berfikir tentang pengetahuan baru, bias menyeesaikan masalah, dan bias
berfikir dan membuat keputusan
b. Menjadikan siswa paham dengan materi yang disampaikan
c. Siswa mempunyai nilai tambah yang lebih yaitu bisa
mengingat materi yang disampaikan karena siswa sendiri yang aktif
d. Meletih untuk berinteraksi social seperti dengan teman
kelompok, dan guru
e. Karena siswa terlibat secara terus, mereka akan paham, ingat,
yakin dan berinteraksi dengan lingkungannya, maka mereka akan berasa
meningkatkan belajar untuk membina pengetahuan baru.
2. Kelemahan
Kekurangan
atau kelemahan dalam suatu penerapan metode pembelajaran tergantung pada guru
sebagai pelaksana metode. Pada metode kontruktivisme guru berperan hanya sebagai
pendukung bukan sebagai hal utama. Fokus konstruktivisme hanya ketika proses
pembelajaran itu terjadi.
A.
Langkah-langkah
Konstruktivisme
Pada bagian ini akan dibahas
proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek siswa,
peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
1.
Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang
dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung
satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses
asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya.
Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan
pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas.
2.
Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan
pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif
melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang
hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa
untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar.
Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah
niat belajar siswa itu sendiri.
3. Peranan
guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses
pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak
mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa
untuk membentuk pengetahuannya sebdiri.
4. Sarana
belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar
adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala
sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya
disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.
5. Evaluasi.
Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya
berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan,
serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman
Sumber: http://husnita-tanjung.blogspot.co.id/2014/06/makalah-model-pembelajaran-behavior.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar