MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL
Mengapa dikatakan model pembelajaran sosial? Karena
pendekatan pembelajaran yang termasuk dalam kategori model ini menekankan
hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Model-model dalam kategori
ini difokuskan pada peningkatan kemampuan individu dalam berhubungan dengan
orang lain, terlibat dalam proses demokratis dan bekerja secara produktif dalam
masyarakat. Dalam hal ini, akan dipelajari 3 model pembelajaran yang termasuk
ke dalam pendekatan pembelajaran sosial, yaitu (1) model pembelajaran bermain
peran, (2) model pembelajaran simulasi sosial, dan (3) model pembelajaran
telaah atau kajian yurisprudensi.
A. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role
Playing)
model role playing (bermain peran) adalah
model pembelajaran dengan cara memberikan peran-peran tertentu kepada peserta
didik dan mendramatisasikan peran tersebut kedalam sebuah pentas. Bermain peran (role playing) adalah salah satu model pembelajaran interaksi sosial
yang menyediakan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan
belajar secara aktif dengan personalisasi.[10] Oleh karena itu,
bentuk pengajaran role playing memberikan pada murid seperangkat/serangkaian
situasi-situasi belajar dalam bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang
dirancang oleh guru. Selain itu, role
playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana
pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan
peran orang lain saat menggunakan bahasa tutur.
Model pembelajaran bermain peran (role playing) dibuat
berdasarkan asumsi bahwa sangatlah mungkin menciptakan analogi otentik ke dalam
suatu situasi permasalahan kehidupan nyata, bermain peran dapat mendorong murid
mengekspresikan perasaannya dan bahkan melepaskannya, dan bahwa proses
psikologis melibatkan sikap, nilai dan keyakinan kita serta mengarahkan pada
kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analisis.[11]
Model role playing dapat membimbing anak didik untuk
memahami prilaku dan peran mereka dalam interaksi sosial, agar mampu memecahkan
masalah-masalah dengan lebih efektif. Role playing dirancang secara
husus oleh Fannie dan George Shaftel untuk membantu anak didik
mempelajari dan merefleksikan nilai-nilai sosial, membantu mereka mengumpulkan
dan mengolah informasi, mengembangkan empati dan memperbaiki keterampilan
sosial mereka. Dengan penyesuaian yang cocok, model ini dapat diterapkan pada
siswa di seluruh tingkat umur.[12]
Berdasarkan beberapa pengertian di atas
maka dapat disintesiskan bahwa model role playing adalah model bermain peran dengan cara memberikan peran-peran tertentu
atau serangkaian situasi-situasi belajar kepada murid dalam bentuk keterlibatan
pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru dan didramatisasikan peran
tersebut kedalam sebuah pentas.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
model pembelajaran bermain peran menurut Suherman adalah:[13]
1)
Menyiapkan skenario pembelajaran
2)
Menunjuk beberapa murid untuk mempelajari skenario tersebut
3)
Pembentukan kelompok murid
4)
Penyampaian kompetensi
5)
Menunjuk murid untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya
6)
Kelompok murid membahas peran yang dilakukan oleh pelaku.
7)
Presentasi hasil kelompok
8)
Bimbingan penyimpulan dan refleksi.
Sedangkan menurut Hamzah B.Uno, Prosedur bermain peran
terdiri atas sembilan langkah, yaitu: (1) persiapan/pemanasan, (2) memilih
partisipan, (3) menyiapkan pengamat (observer), (4) menata panggung atau tempat
bermain peran, (5) memainkan peran, (6) diskusi dan evaluasi, (7) memainkan
peran ulang, (8) diskusi dan evaluasi kedua, dan (9) berbagi pengalaman dan
kesimpulan.[14]
Manfaat yang dapat diambil dari model role playing adalah:[15]
1. Role playing dapat memberikan
semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan
atau istilah-istilah baku dan normatif terhadap materi yang telah dan sedang
mereka pelajari
2. Role playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak,
cocok untuk kelas besar.
3. Role
playing dapat memberikan kepada murid kesenangan karena role playing pada
dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang karena
bermain adalah dunia murid. Masuklah ke dunia murid, sambil kita antarkan dunia
kita
B. Model Pembelajaran simulasi sosial
Simulasi berasal
dari kata simulate yang artinya pura- pura atau berbuat seolah- olah. Kata
simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura- pura. Dengan demikian,
simulasi dalam metode pembelajaran dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan
sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura- pura atau
melalui proses tingkah laku lak imitasi. Atau bermain peran mengenai tingkah
laku yang dilakukan seolah- olah dalam keadaan yang sebenarnya.[16]
Simulasi
merupakan suatu metode pembelajaran praktek interaktif yang melibatkan
penciptaan situasi atau ruang belajar dalam suatu program pelatihan.Tujuan dari
simulasi adalah untuk memunculkan pengalaman pembelajaran selama mengikuti
program pelatihan. Metode ini mirip dengan permainan peran, tetapi dalam
simulasi, peserta peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat
melakukan kegiatan. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang
siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum
benar-benar terbang).
Metode simulasi
telah diterapkan dalam pendidikan lebih dari tiga puluh tahun. Pelopornya
adalah Sarene Boocock dan Harold Guetzkow. Walaupun model simulasi bukan dari
disiplin ilmu pendidikan, tetapi merupakan penerapan dari prinsip sibernetik,
suatu cabang dari psikologi sibernetik yaitu suatu study perbandingan antara
mekanisme kontrol manusia (biologis) dengan sistem elektro mekanik, seperti
komputer. Jadi, berdasarkan teori sibernetika ahli psikologi menganalogikan
mekanisme kerja manusia seperti mekanisme mesin elektronik. Menganggap siswa
(pembelajar) sebagai suatu sistem yang dapat mengendalikan umpan balik sendiri
(self regulated feedback). Sistem kendali umpan balik ini, baik manusia maupun
mesin mempunyai tiga fungsi, yaitu (1) menghasilkan gerakan/ tindakan sistem
terhadap target yang diinginkan, (2)membandingkan dampak dari tindakannya
tersebut, (3) memanfaatkan kesalahan (error) untuk mengarahkan kembali ke jalur
yang seharusnya.
[17]
Prosedur
Pembelajaran proses simulasi tergantung pada peran
guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru.
Pertama adalah penjelasan. Untuk melakukan simulasi, pemain harus benar- benar
memahimi aturan mainnya, oleh karena itu sebelum permainan dimulai, guru/
fasilitator harus menjelaskan tentang aturan permainan dalam simulasi. Kedua
adalah mengawasi (refeereing). Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan
aturan dan prosedur permainan tertentu. Oleh karena itu, fasilitator harus
mengawasi jalannya permainan agar dapat berjalan sesuai dengan ketentuan.
Ketiga adalah melatih (Coaching). Dalam simulasi, pemain akan melakukan
kesalahan. Oleh karena itu, fasilitator harus memberikan bimbingan, saran dan
petunjuk agar pemain tidak mengulangi kesalahan yang sama. Keempat adalah diskusi.
Dalam simulasi, refleksi menjadi bagian yang penting. Oleh karena itu, setelah
simulasi selesai, fasilitator harus mendiskusikan beberapa hal antara lain:
kesulitan- kesulitan, hikmah yang bisa diambil, bagaimana memperbaiki
kekurangan simulasi dan sebagainya.[18]
Dalam permainan
simulasi, yang harus dilakukan oleh guru adalah: (1) Mempersiapkan siswa yang
menjadi pemeran simulasi, (2) Menyusun skenario dengan memperkenalkan siswa
terhadap aturan, peran, prosedur, pemberian skor (nilai), tujuan permainan dan
lain- lain. Guru menunjuk siswa untuk memegang peran- peran tertentu dan
menguji cobakan simulasi untuk memastikan bahwa seluruh siswa memahami aturan
main simulasi tersebut, (3) Melaksanakan simulasi, siswa berpartisipasi dalam
permainan simulasi dan guru melakukan peranannya sebagimana mestinya.[19]
Dalam simulasi,
pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu guru/fasilitator harus
memberikan saran, petunjuk atau arahan sehingga memungkinkan mereka tidak
melakukan kesalahan yang, sama. Dan keempat adalah diskusi.
Kaitannya dengan
kelompok model pembelajaran, simulasi diarahkan pada model pembelajaran sosial.
Simulasi sosial adalah simulasi yang dimaksudkan mengajak peserta melalui suatu
pengalaman yang berkaitan dengan persoalan-persoalan sosial. Menurut pengalaman
sejumlah guru, metode simulasi dalam konteks model pembelajaran sosial sangat
efektif digunakan jika guru menghendaki agar siswa menemukan makna diri (jati
diri) di dalam dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok.
Jenis model pembelajaran sosial misalnya melalui bermain peran dan atau
simulasi. Dalam bermain peran, siswa belajar menggunakan konsep peran,
menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan
perilaku orang lain. Fungsi model pembelajaran sosial adalah (1) untuk menggali
perasaan siswa, (2) memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh
terhadap sikap, nilai dan persepsi, (3) mengembangkan keterampilan dan sikap
dalam memecahkan masalah, dan (4) mendalami mata pelajaran dengan berbagai
cara.
Aplikasi permainan
simulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang
persaingan (kompetisi), kerja sama, empati, sistem sosial, konsep,
keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan dan lain-lain.
Namun demikian, model simulasi agak berbeda dengan model-model lain. Model ini
agak rumit, tergantung pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang
melibatkan peneliti, pengembang, (sistem analis, programer dan lain-lain),
perusahaan komersial, guru atau kelompok guru dan lain-lain. Dewasa ini, dengan
semakin majunya teknologi komunikasi dan informasi, seperti komputer dan
multimedia, telah banyak permainan simulasi dihasilkan untuk berbagai kebutuhan
yang mencakup berbagai topik dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran)
C. Model Pembelajaran Telaah
Yurisprudensi
Model ini dirancang untuk siswa dalam
studi sosial dan menyiratkan metode kasus sebuah studi, mengingatkan pendidikan
hukum. Studi kasus yang melibatkan masalah sosial di daerah-daerah di mana
kebijakan publik harus dilakukan (keadilan dan kesetaraan, kemiskinan dan
kekuasaan dll) Mereka dituntun untuk mengidentifikasi kebijakan publik isu-isu
serta pilihan yang tersedia untuk berhubungan dengan mereka dan nilai-nilai
yang mendasari orang-orang pilihan. Model ini dapat digunakan di daerah manapun
di mana ada isu-isu kebijakan publik, karena etika misalnya dalam ilmu
pengetahuan, bisnis dan olahraga dan lain-lain.
Model ini didasarkan pada konsepsi
masyarakat di mana orang berbeda pandangan dan prioritas dan nilai-nilai sosial
yang sah bertentangan satu dengan lainnya. Menyelesaikan kompleks, isu-isu
kontroversial dalam konteks tatanan sosial yang produktif membutuhkan warga
negara yang dapat berbicara satu sama lain dan berhasil bernegosiasi tentang
perbedaan mereka.permasalahan
daerah umum, masalah ras dan etnis, konflik keagamaan dan ideologis, konflik keamanan individu, konflik antara kelompok-kelompok
ekonomi, kesehatan, pendidikan dan
kesejahteraan keamanan bangsa.
Sintaks Model yurisprudensi:
1. Orientasi untuk kasus
2. Mengidentifikasi masalah
3. Mengambil posisi
4. Menjelajahi sikap yang mendasari posisi yang diambil
5. Refining dan kualifikasi posisi
6. Pengujian asumsi tentang fakta, definisi, dan
konsekuensi.
Reaksi dari model Yurisprudensi adalah:
1. Mempertahankan iklim intelektual yang
kuat di mana semua pandangan dihormati; menghindari evaluasi langsung pendapat
siswa.
2. Lihat bahwa isu-isu yang benar-benar
dieksplorasi
3. Substansi berpikir siswa melalui
pertanyaan relevansi, konsistensi, spesifisitas, umum, kejelasan definisi, dan
kontinuitas.
Pengajaran Model
yurisprudensi Menjaga gaya dialektis; gunakan dialog konfrontatif,
mempertanyakan asumsi siswa dan menggunakan contoh yang spesifik (analogi)
untuk lebih berfariasi dengan laporan yang umum.
hindari mengambil sikap keras kepala. konteks untuk mengeksplorasi situasi dari peristiwa sejarah untuk menjelajahi adanya nilai hukum.
hindari mengambil sikap keras kepala. konteks untuk mengeksplorasi situasi dari peristiwa sejarah untuk menjelajahi adanya nilai hukum.
Peran guru selama
latihan ini sangatlah penting. Siswa sebagai peneliti, juga mendiskusikan, dan
berdebat, guru harus mendorong siswa untuk melibatkan diri ke satu sisi masalah
ini, tapi akan mendukung jika mereka berubah pikiran ketika dihadapkan dengan
bukti baru, dan mendorong mereka untuk mempertimbangkan sudut pandang lain.
Pada tiap saat, guru harus tetap netral terhadap masalah ini, mendorong
diferensiasi posisi, dan mempromosikan sintesis dari posisi yang berbeda yang
disajikan di depan kelas.
Aplikasi Akhir
dari model ini adalah fase yang paling penting. Dalam fase ini bahwa siswa
mengambil apa yang telah dipelajari dan menerapkannya ke lingkungan mereka.
Siswa harus mampu melihat nilai dalam ilmu yang telah mereka pelajari dan
melihat bahwa dengan pengetahuan ini mereka dapat memiliki dampak yang muncul.
Langkah pertama
dari proses ini adalah untuk setiap siswa mengusulkan sebuah rencana aksi
secara keseluruhan dengan resolusi. Beberapa cara siswa telah menerapkan apa
yang telah mereka pelajari dan menjadi terlibat dalam kegiatan masyarakat
meliputi:
1. Menulis surat
kepada dewan kota, perwakilan negara, negara senator, gubernur, atau walikota.
2. Terkemuka atau
berpartisipasi dalam kegiatan seperti pembersihan masyarakat, kegiatan daur
ulang, atau petition drives.
3. Menghadiri
pertemuan atau rapat dewan kota lingkungan lokal.
Apa pun tindakan siswa mengambil harus dinilai dalam keterangan laporan rencana aksi mereka.
Apa pun tindakan siswa mengambil harus dinilai dalam keterangan laporan rencana aksi mereka.
Kunci untuk model
instruksi adalah bahwa siswa mendapat kesempatan untuk menerapkan keterampilan
penyidikan dan strategi tindakan untuk masyarakat dimana mereka tinggal.
Sumber:http://pustakailmiah78.blogspot.co.id/2016/04/model-pembelajaran-sosial-makalah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar