KONSEP
PEMBELAJARAN INOVATIF
Resume 1
1.
Konsep
Pembelajaran Inovatif
Menurut kamus
bahasa Indonesia (2003) kata “inovasi” mengangdung arti pengenalan hal-hal yang
baru atau pembaharuan”. Inovasi juga berarti penemuan baru yang berbeda dari
yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat).
Jadi pembelajaran inovatif dapat diartikan sebuah pembelajaran yang menggunakan
strategi/metode baru yang dihasilkan dari penemuannya sendiri atau menerapkan
metode baru yang ditemukan oleh para pakar dan didesain sedemikian rupa
sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang kondusif.
Pembelajaran
inovatif juga mengandung arti pembelajaran yang dikemas oleh guru atau
instruktur lainnya yang merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru
agar mampu menfasilitasi siswa untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil
belajar. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang
menyenangkan. “Learning is fun” merupakan kunci yang diterapkan dalam
pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak
akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan, kemungkinan
kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan. Membangun metode
pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya
mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap
ilmu masing-masing orang.
Dalam hal ini,
para guru berusaha mencari model-model yang relevan, sehinga setiap komponen
pembelajaran berjalan secara efektif, dan akan tercapai tujuan yang telah
ditetapkan. Model-model tersebut dapat diperoleh dari model lain atau menemukan
sendiri model yang diyakini lebih efektif. Namun yang harus dipahami oleh guru
dalam setiap pemakaian model pembelajaran tidak serta merta menjadi efektif
karena ia akan berkorelasi dengan suasana lain, seperti yang dikemukakan oleh
Saltman (dalam Ibrahim, 1998:48), batas suatu inovasi akan dipengaruhi oleh:
a. Tingkat
pembiayaan, semakin susah tingkat pembiayaan semakin mudah diterima.
b. Seimbang
antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.
c.
Efisiensi, artinya dapat menghemat waktu dan tidak banyak memiliki hambatan.
d.Tidak
memiliki resiko, terutama dengan masalah politik dan keamanan.
e. Mudah
dikomunikasikan.
f. Sesuai
dengan sosial ekonomi setempat.
g. Dapat
dibuktikan secara ilmiah.
h Terasa
langsung manfaatnya.
i. Tingkat
keterlibatan penerimaan inovasi.
j. Hubungan
interpersonal.
k.
Berdasarkan kepentingan.
l. Peranan
agen (penyuluh) inovasi.
Karena siswa
sebagai manusia yang memiliki sejumlah karakteristik di bidang ekonomi, budaya,
kemampuan, dan status sosial, maka pendapat Saltman yang dikemukakan di atas
sebaiknya menjadi pijakan utama dalam pemilihan atau pembuatan suatu inovasi.
Pemberian salah satu ide atau aktivitas tersebut disusun dalam suatu kerangka
yang jelas disebut dengan model. Dengan kata lain model adalah suatu kerangka
konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam
pembelajaran, model dapat diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk melukiskan
prosedur dan langkah-langkah yang sistematis dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
2.
Manfaat Pembelajaran Inovatif
Dalam Permendiknas
RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan
pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata
urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat
bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar)
untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Upaya
merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi
guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat)
manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:
1. Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri;
2. Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
3. Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;
4. Memudahkan guru mengadakan penilaian.
1. Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri;
2. Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
3. Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;
4. Memudahkan guru mengadakan penilaian.
3.
Tantangan dalam Pengembangan Pembelajaran Inovatif
Lebih lanjut
Prof Dr Yahya Muhaimin menjelaskan Ada beberapa tantangan yang terbentang di
hadapan kita dalam melangkah ke depan, yakni tantangan internal dan eksternal.
Tantangan tersebut harus di antisipasi oleh lembaga dalam hal ini adalah
sekolah.
Pertama,
pada era globalisasi, era abad ke-21, di samping dunia mengalami perkembangan
teknologi yang dahsyat, termasuk teknologi informasi, dunia juga mengalami
keterbukaan yang amat sangat, sehingga umat manusia mengalami mobilitas yang
bukan main cepatnya. Karena itu kita juga mengalami perubahan masyarakat yang
tidak putus-putusnya, yang menyebabkan umat juga mengalami ketidakseimbangan.
Konstagnasi ini bisa dilihat dari buah pikiran para pemikir dunia, seperti John
Naisbitt, Samuel Huntington, Kenichi Ohmae, Francis Fukuyama, dan lain-lain.
Pada dimensi
yang lain, globalisasi akan memudahkan masuknya nilai-nilai baru. Begitu deras
nilai-nilai baru itu membanjiri masyarakat sehingga amat sering tidak lagi
dapat di kontrol secara memadai. Akhirnya anggota masyarakat menjadi mengalami
kebingungan dan ketidak-seimbangan hidup, bahkan shizophrenia. Dalam
kondisi seperti itulah maka tidak pernah akan mudah orang memiliki daya
kreatifitas dan kompetitif.
Kedua,
guna menciptakan dan memelihara anggota masyarakat menjadi ”kuat” maka lembaga
dan sistem pendidikan harus menopangnya. Yakni agar lembaga dan sistem
pendidikan kita benar-benar berfungsi secara optimal. Sistem ini pada satu segi
menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, dan pada segi lain juga membina
serta memelihara para guru menjadi kuat, menjadi memiliki kompetensi yang memadai
antara dengan menjaga harga diri dan wibawa serta kesejahteraan ekonomi para
guru sehingga bisa berfungsi secara optimal.
Hal yang
penting di dalam proses pendidikan tersebut, karena itu, adalah terpeliharanya
”rasa ingin tahu” (curiosity), sebab tanpa adanya curiosity
maka sulit bagi kita untuk mempunyai kreativitas dan inovasi.
Ketiga,
walaupun kontroversi terhadap dimensi struktural dan kultural hingga kini belum
berakhir, namun faktor budaya merupakan faktor yang penting. Nilai-nilai budaya
dapat menjadi faktor penunjang yang utama namun juga dapat menjadi tantangan
yang serius. Pola budaya yang amat dominan dalam kehidupan orang indonesia
adalah patrimonialisme, kolektivisme dan paternalisme.
Paternalisme
selama ini telah menjadi faktor stabilisator, demikian juga kolektivisme
(sharing atau kebersamaan) telah mendorong terpeliharanya harmoni di
dalam masyarakat. Pada masa-masa era zaman klasik, patrimonialisme
juga telah mendorong berlangsungnya kestabilan. Namun dalam era keterbukaan dan
reformasi, maka pola-pola budaya seperti di atas harus mengalami transformasi
sebagaimana Jepang mengalami transformasi dari nilai samurai menjadi nilai entrepreneurial
yang begitu inovatif dan kompetitif
SUMBER:
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/17/konsep-dasar-metode-pembelajaran-inovatif/
biosaefful.blogspot.co.id/2013/05/definisi-manfaat-dan-tujuan-pembelajaran.html
http://www.alirsyadpwt.com/node/70
Tidak ada komentar:
Posting Komentar